Foto: Fitri Dalia Sihombing (Mahasiswa Prodi Pendidikan IPA, Universitas Negeri Medan, Medan)

CitizenTN

Gas Air Mata Pemecah Demonstrasi

CitizenTN 12-10-2020 | 20:03PM

Oleh: Fitri Dalia Sihombing
Mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA, Universitas Negeri Medan, Medan

 

Pasti kalian sudah tidak asing lagi dengan Gas Air Mata. Jika kalian mahasiswa mahasiwa yang pernah ikut demo pasti tidak asing lagi dengan senjata gas air mata yang dilemparkan para polisi demi membubarkan mahasiswa yang demo. Pernah kalian berfikir apa sih gas air mata itu? Kenapa gas air mata sangat ditakutin mahasiswa mahasiswa pendemo? Mari kita amati.

Pertama-tama apa sih gas air mata itu ? Gas air mata adalah senjata kimia yang menyebabkan sakit mata, iritasi kulit, masalah pernapasan, pendarahan dan bahkan kebutaan. Bahan kimia di dalamnya merangsang saraf kelenjar lakrimal untuk menghasilkan air mata. Oleh karena itu, gas air mata disebut juga sebagai lachrymator. Gas ini terdiri dari senyawa padat aerosol atau senyawa cair yang diuapkan, seperti bromoacetone dan xylyl bromide. Gas ini bekerja dengan mengiritasi selaput lendir di mata, hidung, mulut dan paru-paru. Gas air mata merupakan salah satu senjata kimia yang dimanfaatkan oleh Polisi untuk mempertahankan kendali massa atau membubarkan demonstran. Selain digunakan sebagai senjata kimia polisi, gas airmata juga dapat digunakan untuk menangkal musuh, menghadapi hewan berbahaya, atau pun melawan penjahat dalam keadaan berbahaya.

Ingin tahu sejarah gas air mata? Mari kita mundurkan waktu sejenak ke satu abad silam. Tepatnya pada tahun 2014, pasukan Perancis menembakkan granat gas air mata ke parit Jerman di sepanjang perbatasan antara kedua negara, terang laman The Atlantic. Ini terjadi saat bentrokan pertama antara Perancis dan Jerman di perang dunia I.

Jauh sebelum itu, kimiawan Perancis telah meneliti tentang metode untuk mengendalikan huru-hara yang efektif. Ini dibahas pada Konvensi Den Haag di tahun 1899. Gas ini dirancang untuk memaksa orang keluar dari balik barikade dan parit, lalu akan menyebabkan mata dan kulit yang terbakar, sobek dan tersedak.

Secara umum, kandungan utama pada gas ini yang sering digunakan untuk membubarkan demonstran adalah CN (chloroacetophenone) atau CS (chlorobenzylidenemalononitrile) dan membutuhkan proses kimia yang rumit untuk menghasilkan. Senyawa CS yang menjadi salah satu bahan pembuatnya ini bisa mengaktifkan reseptor di tubuh dan berhubungan dengan rasa sakit. Selain itu, masih banyak senyawa lain yang digunakan dalam pembuatan gas air mata. Namun, gas airmata juga dapat dibuat menggunakan bahan Oleoresin Capsicum (OC) yang biasanya terdapat pada paprika merah dan hijau sebagai bahan utamanya. Senyawa lain yang digunakan atau disarankan untuk digunakan adalah bromoacetone, benzyl bromide, ethyl bromoacetate, xylyl bromide, dan α-bromobenzyl cyanide.

Baca Juga: Ternyata Suhu Benda Dipengaruhi Oleh Kalor??!

Nah setelah mengetahui kandungan yang ada pada Gas Air Mata mari kita perhatikan lagi apasih efek samping jika gas air mata mengenai indra pada tubuh kita?. Bahan-bahan yang digunakan tadi memiliki karakteristik yang sama jika terkena bagian tubuh ataupun saluran pernafasan, menyebabkan sensasi terbakar dan iritasi pada kulit. Meski cukup menyakitkan, gas airmata tidak mematikan ataupun menghasilkan efek samping secara permanen. Lalu, apakah gas airmata yang kadaluarsa memiliki kandungan yang lebih berbahaya dibandingkan yang tidak? Menyikapi hal ini, banyak orang berteori bahwa gas air mata yang telah kadaluarsa akan menyebabkan gas tersebut menjadi lebih beracun. Namun, pendapat ini disanggah oleh Steve Wright dari Leeds Metropolitan University yang menyatakan bawasanya jika gas tersebut kadaluarsa maka kandungan kimia pada gas tersebut menjadi rusak. Kerusakan pada kandungan kimia ini malah akan menyebabkan nya menjadi kurang efektif.

Baca Juga: Manfaat Koloid Dalam Kehidupan Sehari-hari, Yang Tidak Banyak Diketahui

Ada beberapa cara mengatasi jika teman teman sekalian terkena gas air mata :

- Segera cari udara segar.
Kandungan SC pada gas airmata menyebabkan sensasi terbakar pada saluaran pernafasan dan secara otomatis mata kita akan menutup. Efek CS akan segera hilang setelah menghirup udara segar 5-10 menit.

- Bilas dengan air.
Bilas dengan air bersih 5-10 menit. Jika perlu tambahkan cairan fisiologi seperti NaCl.

- Jangan menggosok-gosok mata.
Menggosok-gosok mata atau bagian yang terkena gas air mata akan mempercepat reaksi kimia pada kandungan gas airmata dan akan memperburuk efek yang ditimbulkan

Baca Juga: Termos yang Berisi Air Panas Tidak Terasa Panas Saat Dipegang. Sulapkah?

Nah Cara menghindari agar tidak terkena gas air mata yaitu :

1.    Jangan menyentuh logam gas air mata karena pada saat gas air mata meledak wadah dari gas tersebut sangat panas
2.    Memakai masker untuk melindungi pernapasan
3.    Tidak menggunakan kontak lensa karena itu saangatlah berbahaya jika terkena mata.
4.    Menjauh dari daerah yang dilemparkan gas air mata.
5.    Menghubungi dokter atau medis jika terkena gas air mata yang berkelanjutan .artinya jika rasa perih tidak kunjung hilang maka segera periksakan ke tim medis
6.    Menggunakan kacamata yang ketat. Biasanya para demonstran menggunakan kacamata renang untuk menghindari kontak dengan gas air mata
7.     Jika sudah terkena gas air mata segera mencari air bersih untuk membasuh mata.   

Baca Juga: Cari Tahu Yuk, Mengapa Madu Merupakan Perubahan Wujud Yang Mengkristal?  

Kalian pasti juga bertanya Tanya. Kenapa sih para demonstran mengoleskan pasta gigi kesekitaran mata ? nah ini jawabanya Untuk memproteksi diri, tak jarang kita menemukan demonstran yang mengoleskan pasta gigi ke area wajah, khususnya di bagian mata dan hidung. Mitos yang berkembang, pasta gigi dapat menangkal gas air mata. Namun, bagaimana kebenarannya? Dilansir dari laman International News Safety Institute (INSI), penggunaan pasta gigi tidak memberikan dampak yang signifikan. Hal ini karena pasta gigi terbuat dari banyak bahan kimia dan setiap merek memiliki komposisi yang berbeda-beda, sehingga klaim kebenarannya pun masih diragukan.

Fitri Dalia Sihombing

fitrisihombing71@gmail.com