Foto: Sri Wahyuni Jamal (Istimewa)

CitizenTN

Membaca Masa Depan Pendidikan

CitizenTN 03-06-2020 | 21:58PM

Oleh: Sri Wahyuni Jamal

Alumni Universitas Muslim Indonesia


TakawaNews.com,- Awal tahun ini, kita dikagetkan dengan wabah pandemi Covid-19 dan pada awal Maret lalu dunia benar-benar merasakan dampaknya. Semua sektor strategis hampir lumpuh, berjalan terseok-seok, tak terkecuali sektor pendidikan. Beberapa bulan terakhir para pendidik (guru dan dosen) dipaksa oleh keadaan untuk melaksanakan proses belajar-mengajar dari rumah (WFH) dengan mengandalkan berbagai sarana online. Para pendidik mengajar dari rumah dan peserta didik menerima pelajaran di rumah pula. Kita masih belum tahu sampai kapan pandemi ini berakhir. Apakah pendidikan kita akan berjalan seperti ini selamanya atau hanya sementara adalah sebuah pertanyaan yang belum menemui jawaban.

Ketika kita bicara tentang “masa depan”, bukan berarti apa yang kita bicarakan nantinya akan benar-benar terjadi. Seberapa baik pun pemaparan kita tentang masa depan, ia hanya akan berstatus sebagai “kemungkinan”, tidak lebih, bahkan bisa satot (salah total). Olehnya itu, tulisan singkat ini hanya berupa satu kemungkinan dari sekian ratus, bahkan ribuan kemungkinan lainnya.

“Masa depan” adalah topik yang selalu menarik untuk diperbincangkan. Seorang teman pernah melontarkan sebuah ungkapan perbedaan antara pemikiran orang tua dan anak muda. Katanya, “Perbedaan antara orang tua dan anak muda terletak pada topik pembicaraannya.” “Apa bedanya?” tanya saya singkat. “Orang tua selalu membicarakan masa lalu, sedangkan anak muda selalu membicarakan masa depan,” kata teman saya itu. Memang ada benarnya, meski ada salahnya juga. Tidak semua orang tua seperti itu dan tidak sedikit anak muda yang pikirannya mandek.

Setelah revolusi kognitif dihembuskan dan dijalankan oleh nenek moyang manusia, maka disusullah dengan revolusi selanjutnya, yaitu revolusi pertanian. Sejak saat itu, pola hidup manusia tidak lagi sama, berubah dari nomaden (berburu-pengumpul) menjadi menetap (bertani). Pemukiman terbentuk, jumlah populasi manusia meningkat, pembukaan lahan semakin luas dan domestikasi hewan ternak semakin beragam, yang sekaligus dilibatkan dalam proses pengolahan lahan. Pembicaraan tentang “masa depan” dimulai di masa ini sebagai akibat langsung dari revolusi

pertanian. Para petani tidak pernah berhenti berpikir akan kelanjutan hidup mereka di masa depan. Hidup mereka sepenuhnya bergantung pada hasil panen, karena telah meninggalkan tradisi berburu-pengumpul. Keberhasilan panen bergantung sepenuhnya kepada hujan untuk mengairi sawah dan ladang mereka. Bila curah hujan terlampau tinggi, maka mereka merasa kuatir akan kelebihan debit air yang bisa mengakibatkan banjir hingga gagal panen. Tetapi, jika curah hujan kurang, maka kekeringan mengancam ladang dan sawah mereka. Kelaparan adalah ancaman yang sangat nyata bagi kaum tani. Hal inilah yang mereka pikirkan terus-menerus. Sejak ribuan tahun lalu hingga hari ini, pembicaraan terkait masa depan selalu menjadi topik paling utama.

Olehnya itu, tidak ada salahnya bila kita sedikit berbicara tentang masa depan, diawali dengan sebuah pertanyaan: bagaimana masa depan pendidikan kita? Apakah akan ada ancaman banjir dan kekeringan?

Riwayat Singkat Sekolah

Sekolah dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Latin, yaitu schola yang secara harfiah berarti “waktu luang” atau “waktu senggang”. Orang-orang Inggris mengadopsi kata schola menjadi school.

Asal-usul sekolah dan istilahnya dimulai pada zaman Yunani Kuno. Saat itu kaum laki-laki Yunani dalam mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi suatu tempat dan di situlah juga ada seseorang yang bijaksana. Dia adalah orang yang diakui oleh banyak orang dan sering dijadikan tempat untuk bertanya bebagai perkara. Secara singkat, sekolah berarti waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar. Lama-kelamaan, kebiasaan itu akhirnya tidak lagi semata-mata menjadi kebiasaan kaum laki-laki, tetapi juga diikuti oleh kaum perempuan dan anak-anak.

Baca Juga: Sosialisasi Sensus Penduduk 2020, BPS Go To School

Perkembangan kehidupan amat beragam dan mengambil waktu orang tua, maka si bapak dan si ibu merasa tidak punya waktu lagi untuk mengajarkan banyak hal kepada anak-anak mereka. Oleh karena itu, untuk mengisi waktu luang anak-anak, para orangtua meyerahkan anak-anak mereka kepada orang yang dianggap bijaksana di suatu tempat. Dan di tempat itulah anak-anak boleh bermain, belajar atau berlatih melakukan sesuatu apa saja yang mereka anggap patut dipelajari sampai saatnya kelak mereka harus kembali ke rumah menjalankan kehidupan sebagai orang dewasa sebagaimana lazimnya.

Baca Juga: Ayo! Bantu Pemerintah Mengurangi Kasus Covid-19

Maka, tercipta scola matterna (kepengasuhan itu sampai usia tertentu), yang merupakan proses dan lembaga tertua umat manusia, menjadi scola in loco parentis (lembaga kepengasuhan anak-anak pada waktu senggang di luar rumah sebagai pengganti bapak dan ibu). Lembaga kepengasuhan atau pendidikan sebagai tempat pengasuhan dan pembelajaran pada waktu senggang di luar rumah sebagai pengganti orang tua disebut almamater yang berarti “ibu yang mengasuh” atau “ibu yang memberikan ilmu”. Perkembangan yang muncul selanjutnya adalah lahirnya lembaga-lembaga baru, seperti: PAUD, TK, Sekolah Dasar (SD), SMP, SMA, SMK, Universitas, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Opini : Polemik Publikasi Data ODP COVID-19 dengan Privasi Pasien

Revolusi Industri

Revolusi industri menjadi motor utama penggerak peradaban umat manusia di era modern ini. Sejak revolusi industri pertama hingga revolusi industri keempat, sistem pendidikan di seluruh dunia terus mengalami perubahan - mengikuti perkembangan zaman. Saat ini, kita sama-sama menyaksikan perubahan yang tak terduga itu, bahwa para pengajar dan para pembelajar tidak harus bertemu tatap muka di dalam ruang kelas. Keduanya bisa bertemu kapan saja dan di mana saja selama tersedia listrik, komputer atau smart phone, kuota internet dan jaringan internet yang memadai. Kini, gedung-gedung tinggi bertingkat dan ruang-ruang kelas seolah menjadi usang. Semua perubahan ini dipelopori oleh revolusi industri keempat.

Algoritma merupakan tulang punggung perkembangan kecerdasan buatan (AI). Ia didefinisikan sebagai seperangkat langkah metodis yang bisa digunakan untuk melakukan kalkulasi, pemecahan masalah, dan mencapai keputusan-keputusan. Secara singkat, algoritma terbagi menjadi tiga bagian utama: input, proses (otak) dan output. Artinya, apa yang Anda masukan dalam sebuah program komputer, program itu akan mengkalkulasinya sesuai dengan perintah yang tersedia dan menghasilkan sebuah keputusan. Misalnya, jika Anda ingin menghitung rata-rata antara tiga anggota, maka Anda bisa menggunakan sebuah algoritma sederhana. Algoritma menyatakan: “Langkah pertama, jumlahkan ketiga angka. Langkah kedua, bagi tiga jumlah itu.” Ketika Anda meng-input angka 4, 6 dan 8, output yang akan Anda dapatkan adalah 6. Lebih lanjut, dengan bantuan teknologi mutakhir, algoritma sederhana dapat dikembangkan menjadi algoritma kompleks untuk suatu tujuan tertentu yang kompleks pula. Algoritma dapat menjelma sebagai guru digital.

Perusahaan seperti Mindojo sedang mengembangkan algoritma interaktif yang tidak hanya akan mengajari kita matematika, fisika dan sejarah, tetapi juga secara simultan mempelajari kita dan mencari tahu siapa sesungguhnya kita. Guru-guru digital akan dengan cermat memantau setiap jawaban yang kita berikan dan berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk menjawabnya. Seiring waktu, mereka akan memahami kelemahan unik kita di samping keunggulan kita, dan akan mengidentifikasi apa yang membuat kita merasa senang dan apa yang membuat kelopak mata kita turun. Mereka bisa mengajari kita termodinamika dan geometri dengan cara yang cocok dengan jenis kepribadian kita, sekalipun metode khusus itu tidak cocok dengan 99 persen murid lainnya. Dan, guru-guru digital itu tidak akan pernah kehilangan kesabaran, tak pernah berteriak kepada kita, tidak pernah menuntut, dan tidak pernah mogok.
Lahirnya Kaum “Unfaedah”

Pada 1931, pakar ekonomi John Maynard Keynes dikenal karena memperingatkan tentang penyebaran pengangguran akibat teknologi. Karena penemuan kita atas cara-cara membuat tenaga kerja ekonomis lebih cepat dari laju di mana kita dapat menemukan kegunaan baru atas tenaga kerja itu, kata Keynes. Perkataan Keynes ini terbukti salah pada saat itu, tetapi bagaimana jika perkataan tersebut benar kali ini?.

Selama beberapa tahun ke belakang, perdebatan itu telah dipicu kembali dengan bukti seperti komputer-komputer yang menggantikan beberapa jumlah pekerjaan, seperti yang paling nyata adalah ahli pembukuan, kasir dan operator telepon.

Tidak dapat kita pungkiri bahwa inovasi teknologi menghancurkan beberapa jenis pekerjaan. Di bidang agrikultur di AS, orang yang bekerja di ladang terdiri atas 90 persen tenaga kerja pada awal abad ke-19, namun kini jumlahnya hanya kurang dari 2 persen. Pemangkasan yang dramastis ini relatif berjalan lancar, dengan gangguan sosial atau endemik pengangguran yang minim. Berdasarkan fakta ini, maka terbukti bahwa apa yang dikuatirkan oleh Tuan Keynes tidak menjadi fakta. Namun, saya akan mengajukan sebuah pertanyaan: apakah kali ini kita akan “lolos” seperti sebelumnya? Benarkah semua akan berjalan ke arah yang lebih baik?.

Sepanjang sejarah, pasar kerja terbagi ke dalam tiga sektor utama: agrikultur, industri dan jasa. Sampai sekitar tahun 1800, sebagian besar orang bekerja di bidang agrikultur, dan hanya sebagian kecil yang bekerja di sektor industri dan jasa. Tak lama setelah revolusi industri, orang-orang di negara maju meninggalkan ladang dan ternak. Sebagian besar mulai bekerja di industri, namun jumlah yang terus bertambah juga mengambil pekerjaan di sektor jasa. Dalam beberapa dekade terakhir, negara maju mengalami revolusi lainnya: ketika pekerjaan industri lenyap, sektor jasa berkembang pesat.

Pada 2010, hanya sekitar 2 persen orang Amerika yang bekerja di bidang agrikultur, 20 persen bekerja di industri, 78 persen bekerja sebagai guru, dokter, perancang halaman web dan lain-lain. Bila algoritma tanpa pikiran mampu mengajar, mendiagnosis dan merancang web lebih baik, apa yang akan kita lakukan?.

Ini bukan sebuah pertanyaan yang baru. Tuan Keynes sudah sejak dari jauh-jauh hari telah mengingatkan kita bahwa perkembangan teknologi akan menghasilkan gelombang pengangguran yang sangat besar di masa mendatang. Telah disebutkan di atas bahwa klaim tersebut sejauh ini terbukti gagal, karena seiring dengan profesi-profesi lama yang usang, profesi baru bermunculan, dan selalu ada banyak hal yang bisa dilakukan manusia secara lebih baik dibandingkan dengan mesin. Apakah ini sebuah hukum alam yang tidak memiliki peluang untuk berubah?.

Pada dasarnya, manusia memiliki dua jenis kemampuan dasar: kemampuan fisik dan kemampuan kognitif. Selama mesin bersaing dengan kita hanya dalam hal kemampuan fisik, maka kita akan selalu menemukan pekerjaan kognitif yang bisa dilakukan dengan baik. Mesin mengambil pekerjaan manual semata, sementara manusia berfokus pada pekerjaan yang membutuhkan setidaknya beberapa kemampuan kognitif. Namun apa yang akan terjadi jika suatu waktu algoritma mengungguli kita dalam hal mengingat, menganalisis, dan mengenali pola? Apakah kita semua akan kembali ke sekolah dan universitas untuk belajar kembali? Lalu, buat apa belajar lagi sementara guru dan dosen kita adalah guru-guru digital (hasil dari algoritma) yang akan selalu lebih cerdas dari kita?.

Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Tidak ada satu orang pun yang bisa menjawab pertanyaan di atas dengan presisi yang tepat. Tetapi, setidaknya akan ada kaum baru yang lahir: kaum unfaedah. Yaitu, kaum yang tidak memiliki pekerjaan dan juga tidak dapat dipekerjakan. Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah mengungguli kecerdasan algoritma eksternal. Tetapi apakah itu mungkin terjadi?.

Sekarang, kita mulai berhitung (hitung-hitungan kasar). Berapa persen orang di negeri ini yang bekerja di sektor agrikultur, industri, dan jasa? Bisakah Anda bayangkan bila perusahaan seperti Mindojo menjamur? Bagaimana nasib para pendidik (guru dan dosen) di masa datang? Apakah orang-orang yang dikalahkan oleh teknologi harus kembali ke ladang dan sawah untuk bercocok tanam? []

Oleh: Sri Wahyuni Jamal

Alumni Universitas Muslim Indonesia

swj579@umkt.ac.id

 

Editor: La Ode Ali