Proses pemakaman jenazah almarhum La Ba'a di kampung halamannya di Desa Kamelanta, Buton, Sultra, Minggu (11/10/2020).

Regional

Upaya Bupati Buton tak Sia-sia, Jenazah La Ba'a Korban Kontak Senjata Kelompok Abu Sayyaf Akhirnya Dimakamkan di Kampung Halaman

Rusli La Isi 12-10-2020 | 02:40AM

BUTON - Jenazah korban sandera oleh kelompok perompak Abu Sayyaf di Filipina (Manila), La Baa (32) tiba dikampung halamannya di Desa Kamelanta, Kecamatan Kapuntori, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, Minggu (11/10/2020) sore sekira pukul 17.00 WITA.

Almarhum La Baa diterbangkan dari Jakarta menuju Kendari dan selanjutnya langsung dibawa ke Kabupaten Buton melalui jalur darat dikawal dari perwakilan Kementrian Luar negeri Republik Indonesia (Kemenlu RI) dan pihak terkait dari Provinsi Sultra.

Kemenlu RI melalui Direktur perlindungan WNI dan BHI, Yudha Nugraha mengatakan, almarhum La Baa merupakan salah satu 5 warga Negara Indonesia yang di culik oleh kelompok Abu Sayyaf di Negara Filipina pada 16 Januari 2020 lalu.

Sejak kejadian itu, Pemerintah Indonesia termaksud juga perwakilan KBRI yang ada di Filipina (Manila) dan konsultan Jenderal yang ada di Manila berupaya semaksimal mungkin bisa membebaskan para sandera asal Indonesia tersebut. 

Upaya itu dilakukan melalui koordinasi aparat dan otoritas di Filipina, namun Allah berkehendak lain dimana pada kontak senjata oleh anggota militer Filipina dan kelompok Abu Sayyaf, La Ba'a ditemukan tewas pada tanggal 28 September 2020 lalu.

Namun, pihak KBRI yang ada di Manila berupaya memulangkannya, meskipun tidak mudah dalam kondisi jenazah ditemukan jauh bagian selatan Negara Filipina dan dalam kondisi konflik serta kondisi wabah Covid-19 dewasa ini.

"Tetapi kita terus upayakan semaksimal mungkin agar bisa memulangkan jenazah di kampung halamannya. Alhamdulilah berhasil, untuk itu kami ucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada seluruh jajaran seperti Bupati dan forkopimda Kabupaten Buton atas segala bantuan dan kerjasama serta seluruh pihak terkait sehingga jenazah almarhum dapat kita pulangkan di kampung halamannya dan bisa kita serahkan ke pihak keluarga," kata Yudha Nugraha.

Yudha menambahkan, pihaknya masih menunggu dan terus berupaya mencari informasi dari Filipina tentang keempat WNI yang masih disandera kelompok Abu Sayyaf.

Ia juga mengimbau bagi WNI yang inggin bekerja atau mencari nafkah di Luar Negeri, dapat melakukan koordinasi dengan cara yang aman sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku sehingga perlindungan dapat diberikan secara maksimal oleh Negara.

Diwaktu yang sama Bupati Buton La Bakry, mengucapkan duka yang sangat mendalam khususnya kepada pihak keluarga almarhum,serta menyampaikan rasa terimakasih kepada pemerintah pusat dalam hal ini Kemenlu RI yang telah berupaya untuk menyelamatkan 5 WNI termaksud La Ba'a yang meninggal bisa dipulangkan dikampung halamannya.

"Akan tetapi takdir berkata lain, kita semua menyerahkan ini kepada Allah Subhanawataala. Mungkin ini yang terbaik bagi almarhum," ucap La Bakry.

Atas peristiwa yang telah menimpa almarhum La Ba'a, La Bakry berharap kepada seluruh masyarakat Buton bisa dijadikan pelajaran tersendiri supaya lebih berhati-hati jika ingin bepergian ke Luar Negeri dan selalu mengikuti peraturan Pemerintah Indonesia sehingga lebih mudah untuk dikontrol.

Ia juga berharap, kedepan kejadian yang menimpa almarhum La Ba'a tidak terjadi lagi.

Sebelumnya atas permintaan keluarga almarhum, Bupati Buton, La Bakry telah berkoordinasi dengan pihak Kemenlu untuk bisa memulangkan dan memakamkan jenazah almarhum La Ba'a di kampung halamannya di Desa Kamelanta.

La Baa merupakan salah satu dari 5 WNI yang diculik oleh kelompok perompak Abu Sayyaf saat sedang menangkap ikan menggunakan kapal kayu di perairan Lahad Datu, Malaysia, pada Januari 2020 lalu.

WNI asal Buton tersebut disandera bersama empat rekannya, yaitu Arsyad bin Dahlan (42), Arizal Kastamiran (29), Riswanto bin Hayono (27) dan Edi bin Lawalopo (53). 

Saat dilakukan pembebasan oleh aparat keamanan Filipina, La Baa ditemukan tewas usai kontak senjata dengan kelompok Abu Sayyaf dibagian Selatan jauh dari kota Patikul, Provinsi Sulu, Filipina (Manila).